Lama Ku Memendamnya
Aku adalah
seorang remaja yang masih duduk di bangku SMP. SMP yang tak begitu ternama di
kota kecil ini. Disinilah aku mulai merasakan ketertarikan kepada lawan
jenisku. Aku menyukai seorang murid yang satu kelas denganku. Ia adalah murid
baru disini. Rambut hitam ikal yang selalu tergurai di pipinya dan membuatku
selalu ingin memandangnya setiap waktu.
Lagi-lagi pandanganku melayang pada murid baru itu, yang duduk dua
bangku di depan. Adira Azzahra namanya, biasa dipanggil Zahra. Entah apa yang
menyebabkannya pindah ke kota kecil ini pada pertengahan semester, tapi
pastinya bukan sesuatu yang baik. Orang-orang banyak yang berkomentar miring
tentang keluarga Zahra dan teman-teman pun tak ada yang mau terlalu dekat dengannya.
Itulah yang membuatku merasa canggung untuk menyapa. Aku tak ingin semua orang
ikut menggosipkanku karena mencoba mendekati Zahra.
Hari ini genap satu bulan kami sekelas tapi aku tetap memandanginya dari
belakang, membayangkan, bagaimana rasanya menyentuh rambut hitam Zahra yang
mengkilap. Tak bisa lagi kutahan lebih lama keinginan untuk menjalin interaksi,
paling tidak aku harus mencoba menyapanya.
Siang itu sepulang sekolah, Zahra duduk seorang diri di tepi lapangan
olahraga. Inilah kesempatan, sayangnya aku masih tak tahu bagaimana memulai
pembicaraan. Zahra menyibakkan rambut dan terlihatlah kabel earphone menjuntai
dari telinganya.. “Itu dia, Musik” gumamku dalam hati. Ia pasti menyukai musik
karena ini bukan kali pertamaku melihatnya memakai earphone. Meski mendengarkan
musik bukanlah hobiku, setidaknya aku tahu lagu apa saja yang saat ini sedang
hits. Akhirnya, aku menemukan topik pembicaraan.
Perlahan aku duduk tak jauh dari sampingnya dan baru saja akan menyapa
ketika menyadari Zahra sedang memandang sesuatu setengah melamun. Kuikuti arah
pandangnya dan menemukan pemuda jangkung berseragam SMA yang sedang melangkah
memasuki gerbang SMP kami. Mata Zahra berbinar saat laki-laki itu berjalan
mendekatinya dan aku merasakan panas di dada, sungguh seperti terbakar oleh api
yang bergejolak ketika lelaki tadi membelai lembut rambut indah Zahra.
Mendadak aku kehilangan keinginan untuk mengenal Zahra lebih jauh saat
meyakinkan lelaki sialan itu adalah kekasih Zahra. Tapi belakangan, aku
mendengar kabar kalau murid SMA itu adalah kakak Zahra. Entah kenapa hal itu
tidak menyurutkan kekesalanku karena baik Zahra atau kakaknya tidak bersikap
seperti layaknya saudara. Mungkinkah seorang kakak bisa bersikap mesra pada
adiknya? Mungkinkah seorang adik bisa memandang kakaknya penuh ketertarikan?
Masa bodoh pikirku. Aku… merasa tak lagi punya harapan untuk bisa lebih dekat
dengan Zahra. Bgaimana mungkin? Zahra sendiri tampaknya tak bisa melihat
laki-laki selain kakaknya. Aku harus belajar menjauhi Zahra dan keluarganya
seperti yang dilakukan orang-orang lain di sekitarku.
Tapi suatu ketika, aku melihat kejadian yang tak pernah terbayangkan
olehku. Di tengah hujan yang mengguyur deras, Zahra dan kakaknya bertengkar
hebat. Entah apa yang mereka perdebatkan, tapi belum pernah kulihat keduanya
tampak semarah itu pada satu sama lain. Pertengkaran berakhir saat sang kakak
tiba-tiba meninggalkan Zahra, pergi menembus hujan yang masih turun dengan
lebat. Zahra yang mendadak tampak menyesal, langsung berlari mengejar tanpa
melihat kendaraan yang melaju kencang ke arahnya
“ZAHRAAAAAA….!!”
Itulah kali pertama kupanggil namanya. Itulah kali pertama kusentuh
Zahra, mendorongnya sekuat tenaga hingga jatuh berguling menjauhi mobil yang
hampir menabraknya.
Itu… pertama kalinya Zahra memandangku terperanjat, berlari ke arahku
sesaat setelah mobil itu menabrak dan membuatku terkapar berlumuran darah di
tengah guyuran hujan.
“Me..me..ngapa kau lakukan ini?” Isaknya terbata-bata. Ia menggenggam
tanganku erat serta mengangkat kepalaku yang sedikit terbalut darah dan basah
kuyup terguyur hujan.
Tak lama kemudian kakak Zahra pun berlari mendekatiku dan Zahra di bahu
jalan. Lelaki paruh baya itu hanya bisa mengelus dada, matanya nanar dan
berkaca-kaca, kemudian meneteslah air matanya, meskipun tidak tampak jelas
karena di tengah derasnya hujan.
Aku tak bisa merasakan tubuhku lagi, tapi itu tak penting, karena… itu
kali pertama Zahra menatap hanya padaku. Kali pertama ia berteriak cemas
memanggil namaku. Dan di tengah kesadaran yang makin menghilang, aku merasa
pikiranku berkata…. “I’m so glad that you finally notice me.”
~THE END~