Senin, 29 Februari 2016

CERPEN



Lama Ku Memendamnya
     Aku adalah seorang remaja yang masih duduk di bangku SMP. SMP yang tak begitu ternama di kota kecil ini. Disinilah aku mulai merasakan ketertarikan kepada lawan jenisku. Aku menyukai seorang murid yang satu kelas denganku. Ia adalah murid baru disini. Rambut hitam ikal yang selalu tergurai di pipinya dan membuatku selalu ingin memandangnya setiap waktu.

     Lagi-lagi pandanganku melayang pada murid baru itu, yang duduk dua bangku di depan. Adira Azzahra namanya, biasa dipanggil Zahra. Entah apa yang menyebabkannya pindah ke kota kecil ini pada pertengahan semester, tapi pastinya bukan sesuatu yang baik. Orang-orang banyak yang berkomentar miring tentang keluarga Zahra dan teman-teman pun tak ada yang mau terlalu dekat dengannya. Itulah yang membuatku merasa canggung untuk menyapa. Aku tak ingin semua orang ikut menggosipkanku karena mencoba mendekati Zahra.

     Hari ini genap satu bulan kami sekelas tapi aku tetap memandanginya dari belakang, membayangkan, bagaimana rasanya menyentuh rambut hitam Zahra yang mengkilap. Tak bisa lagi kutahan lebih lama keinginan untuk menjalin interaksi, paling tidak aku harus mencoba menyapanya.

     Siang itu sepulang sekolah, Zahra duduk seorang diri di tepi lapangan olahraga. Inilah kesempatan, sayangnya aku masih tak tahu bagaimana memulai pembicaraan. Zahra menyibakkan rambut dan terlihatlah kabel earphone menjuntai dari telinganya.. “Itu dia, Musik” gumamku dalam hati. Ia pasti menyukai musik karena ini bukan kali pertamaku melihatnya memakai earphone. Meski mendengarkan musik bukanlah hobiku, setidaknya aku tahu lagu apa saja yang saat ini sedang hits. Akhirnya, aku menemukan topik pembicaraan.

     Perlahan aku duduk tak jauh dari sampingnya dan baru saja akan menyapa ketika menyadari Zahra sedang memandang sesuatu setengah melamun. Kuikuti arah pandangnya dan menemukan pemuda jangkung berseragam SMA yang sedang melangkah memasuki gerbang SMP kami. Mata Zahra berbinar saat laki-laki itu berjalan mendekatinya dan aku merasakan panas di dada, sungguh seperti terbakar oleh api yang bergejolak ketika lelaki tadi membelai lembut rambut indah Zahra.

     Mendadak aku kehilangan keinginan untuk mengenal Zahra lebih jauh saat meyakinkan lelaki sialan itu adalah kekasih Zahra. Tapi belakangan, aku mendengar kabar kalau murid SMA itu adalah kakak Zahra. Entah kenapa hal itu tidak menyurutkan kekesalanku karena baik Zahra atau kakaknya tidak bersikap seperti layaknya saudara. Mungkinkah seorang kakak bisa bersikap mesra pada adiknya? Mungkinkah seorang adik bisa memandang kakaknya penuh ketertarikan? Masa bodoh pikirku. Aku… merasa tak lagi punya harapan untuk bisa lebih dekat dengan Zahra. Bgaimana mungkin? Zahra sendiri tampaknya tak bisa melihat laki-laki selain kakaknya. Aku harus belajar menjauhi Zahra dan keluarganya seperti yang dilakukan orang-orang lain di sekitarku.

     Tapi suatu ketika, aku melihat kejadian yang tak pernah terbayangkan olehku. Di tengah hujan yang mengguyur deras, Zahra dan kakaknya bertengkar hebat. Entah apa yang mereka perdebatkan, tapi belum pernah kulihat keduanya tampak semarah itu pada satu sama lain. Pertengkaran berakhir saat sang kakak tiba-tiba meninggalkan Zahra, pergi menembus hujan yang masih turun dengan lebat. Zahra yang mendadak tampak menyesal, langsung berlari mengejar tanpa melihat kendaraan yang melaju kencang ke arahnya
  “ZAHRAAAAAA….!!”
     Itulah kali pertama kupanggil namanya. Itulah kali pertama kusentuh Zahra, mendorongnya sekuat tenaga hingga jatuh berguling menjauhi mobil yang hampir menabraknya.

     Itu… pertama kalinya Zahra memandangku terperanjat, berlari ke arahku sesaat setelah mobil itu menabrak dan membuatku terkapar berlumuran darah di tengah guyuran hujan.

     “Me..me..ngapa kau lakukan ini?” Isaknya terbata-bata. Ia menggenggam tanganku erat serta mengangkat kepalaku yang sedikit terbalut darah dan basah kuyup terguyur hujan.

     Tak lama kemudian kakak Zahra pun berlari mendekatiku dan Zahra di bahu jalan. Lelaki paruh baya itu hanya bisa mengelus dada, matanya nanar dan berkaca-kaca, kemudian meneteslah air matanya, meskipun tidak tampak jelas karena di tengah derasnya hujan.

     Aku tak bisa merasakan tubuhku lagi, tapi itu tak penting, karena… itu kali pertama Zahra menatap hanya padaku. Kali pertama ia berteriak cemas memanggil namaku. Dan di tengah kesadaran yang makin menghilang, aku merasa pikiranku berkata…. “I’m so glad that you finally notice me.”


~THE END~

1 komentar:

  1. OK, penulisan gaya akuan yang cukup baik. Yang saya pertanyakan, mungkinkah siswa SMP sudah memikirkan hal seperti itu. Ah, mungkin sajalah, wong anak SMP zaman sekarang. Kemudian, Anda juga kurang pas menafsirkan usia "pria paruh baya."

    BalasHapus